Ads Top

Peluncuran Buku Selfie, Sewindu Catatan dari Palu karya Neni Muhidin


Mengumpulkan tulisan-tulisan yang menumpuk setelah diterbitkan di beberapa media massa, Neni Muhidin pun mencoba merangkumnya ke dalam sebuah bentuk buku, yang diberi judul Selfie - Sewindu Catatan dari Palu. Pada prosesnya, Neni tidak membutuhkan waktu yang begitu lama untuk menerbitkannya, yang kemudian digelarlah sebuah acara peluncuran buku bertajuk, Dramatic Reading. Berlangsung di Auditorium RRI Kota Palu, Selasa (17/3).

"Selfie! Bukanlah nama perempuan atau sebuah warkop yang berada di Jalan Pramuka, Kota Palu. Hahahaa...". Begitulah gurauan yang dikatakan oleh Neni Muhidin saat tampil diatas panggung pada sesi akhir acara peluncuran bukunya.

Pada rangkaian acara yang berlangsung, disajikan pula penampilan musik, videografis, dan pembacaan esai. Selain itu, turut pula menghadirkan Jamaluddin Mariadjang, Ani Tambero, Ejha Rawk, Andi Magie Fitrah Nurlia, Yusuf Radjamuda, R28, Cinerama, BukaPintu, dan Culture Project sebagai pengisi pada sesi-sesi acara berlangsung.

Selfie, dipilih oleh Neni Muhidin sebagai judul yang dirasa cocok untuk menerangkan atau mewakili seisi bukunya yang berisikan sejumlah esai pribadinya. Esai-esai tersebut dikumpulkan dari selama delapan tahun terakhir dengan pembahasan mengenai Kota Palu, sehingga dinamakan olehnya, Sewindu Catatan dari Palu.

Penampilan musik mengawali acara pada pukul 18.00 Wita, lagu-lagu kian mengiringi penonton yang bergegas memenuhi kursi-kursi. Setelah 30 menit musik berlangsung, pembacaan esai pertama dimulai, yang berjudul Indie, oleh Ejha Rawk.

Sepintas isi dalam esai tersebut, dikatakan, sesederhanakah Indie itu dipahami? Identitas baru remaja perubahan Indonesia kini seolah menjadi penanda kerja-kerja kreatif, seperti musik, fesyen, film, maupun dunia informasi. Clothing, distro, anak band, mini album, film pendek, zine, dan blog adalah sebagian dari kosakata yang sering kali kita temui disandingkan dengan kata indie.

Namun bicara mengenai indie, pembahasan dalam esai tersebut banyak mengarah pada gerakan di bidang musik yang dipenuhi dengan kemelut rintangannya. Perjalanan musik yang bergerak dalam ranah indie dibahas secara apik, dengan mengaitkan sejumlah perangkat pendukungnya, seperti karya album mini, merchandise, pagelaran musik, distro, zine, dan sebagainya.

Dilanjutkan pembacaan esai berjudul, Puisi, oleh Ani Tamberu. Puisi dibawakan dengan karakternya seperti bermonolog yang senantiasa menggetarkan para pendengarnya. Tak lama berlangsung, kemudian esai yang dibacakan usai diakhiri dengan selingan penampilan musik jazz yang dibawakan oleh Randi Handi dkk. Selanjutnya esai berjudul Saya dan Guru Tua, yang dibacakan dengan hangat oleh Jamaluddin Mariadjan. Lalu kembali ke penampilan musik dari Buka Pintu, yang membawakan sebuah lagu berjudul Gulita, disertai irama musik yang dimainkan dengan khas seakan menyapa penonton dengan kesejukan lirik berpuitis.

Memasuki sesi selanjutnya, tafsir kritis dari esai berjudul Parlow disajikan dalam bentuk video-art oleh Yusuf Radjamuda. Penampilan videografi tersebut, berdurasi waktu sekitar 3 menit berlangsung, dan cukup memukaukan para penontonya. Setelah itu, pembacaan esai dilanjutkan oleh Andi Magie Fitrah Nurlia, yang berjudul Palu di Tahun 2040. Dalam esai tersebut menceritakan tentang dinamika kota melalui pengutaraan berbagai masalah yang menjadi perbincangan berkelanjutan, oleh karena itu Neni mencoba mengambil judul yang memprediksikan Palu dalam beberapa tahun akan datang.

Lanjut, penampilan musik oleh Culture Project, yang digagas oleh Adi Tangkilisan. Sebuah lagu berjudul Palu Di Mana, menjadi pengantar ke sesi akhir acara yang berlangsung, dengan sajian musik tradisi yang berpadu instrumen modern. Pukul 21.45 Wita menjadi rangkaian akhir penghujung acara, tepat saat Neni Muhidin dipersilahkan tampil diatas panggung.

Pada sesi akhir acara berlangsung, Neni Muhidin pun menyampaikan banyak rasa terima kasihnya dan harapan di hadapan seluruh penonton atas diluncurkan buku Sewindu Catatan dari Palu, yang diberi judul Selfie. Saya berterima kasih buat semua orang, teman yang telah menjadi bagian dari keberlangsungan peluncuran buku saya (Selfie). Ujar Neni.

Lanjut. Mungkin ini naif juga membayangkan sebuah kota, dan menjadikan literasi untuk memudahkan pemaknaan terhadap suatu harapan, yaitu kebudayaan membaca dapat menjadi keseharian kita. Saya bisa tetap keren walau hanya membaca, saya bisa tetap keren dengan membaca, saya tidak sosial, namun saya begitu yakin perubahan akan menjadi lebih bermakna dengan bacaan.

Mungkin buku tidak bisa seperti peluru yang cepat mengubah apa-apa, tetapi saya yakin bahwa perubahan akan jadi lebih bermakna dengan adanya buku. Terima kasih buat kita yang telah hadir. Tutup Neni dalam penyampaiannya di sesi akhir acara berlangsung.Demikian acara peluncuran buku Selfie malam itu usai tepat pada pukul 22.00 Wita, dan sebelum mengakhiri acara, Neni pun meminta seluruh penonton dapat menyempatkan diri untuk berfoto selfie bersama-sama sebagai penutup acara.

Share this:

Post a Comment

 
Copyright © blog.berandaagung. Designed by OddThemes