Ads Top

Gelora Musik dan Provokasi Fesyen di Palu Clothing Expo


Perkembangan mode atau fesyen sebagai salah satu tren budaya massa, telah menjadi penggerak industri kreatif di Indonesia. Terdapat berbagai produk atau brand fesyen yang bermunculan di tiap tahunnya, sehingga hal itu membuat pergerakan ekonomi kreatif pun turut meningkat. Namun peningkatannya juga harus dibarengi dengan daya saing sumber daya manusianya yang sangat mempengaruhi selera industri fesyen.

Bila gelaran perdana Palu Clothing Expo 2015 diharapkan dapat menjadi wadah yang turut mendukung kemajuan ekonomi kreatif Kota Palu. Maka peran berbagai insan yang terkait juga harus saling mendukung. Baik itu dari kalangan masyarakat secara umum, hingga pada yang terkhususkan yaitu pelaku bisnis, komunitas, serta peran pemerintah sebagai regulator.

Melihat sejumlah gelaran acara yang serupa dengan Palu Clothing Expo dan lebih dulu digelar di kota-kota besar di Indoensia seperti Kick Fest, Jakarta Cloth Expo, Bandung Clothing Expo, Indie Clothing Expo dan sebagainya, telah memberikan pengaruh pada kemajuan industri fesyen. Sehingga sejumlah brand atau produk yang turut berpartisipasi di dalam acara-acara seperti itu memiliki peluang untuk mendapatkan jangkauan pemasarannya secara langsung.

Sementara itu Palu Clothing Expo yang berlangsung selama tiga hari, tanggal 24, 25, dan 26 April 2015, di Nebula Outdoor Venue, mengusung musik dan clothing ke dalam sebuah konsep acara. Menghadirkan beberapa clothing, brand, distro serta penampilan musik dari sejumlah band sebagai hiburannya. Selain itu, adapun sajian kuliner dan suguhan dari komunitas yang turut meramaikan gelaran tersebut.


Dengan mengeluarkan biaya sewa sebesar 550 ribu, beberapa clothing-an yang mengisi stan pada saat acara berlangsung, di antaranya Pemuda Tees, S22, Pajeco, Wrong Way, Enin Clothes Store, Mas Bro Shop, Expeta, Chemers Boutiqe, Makassar Jeans Houes, Branda Boutiqe.

Ekspektasi digelarnya Palu Clothing Expo ditujukan sebagai ajang promosi produk fesyen, namun keriaan khalayak yang hadir tertuang di sesi rangkaian acara musik. Tak bisa dipungkiri bahwa dominasi suguhan musik memang menarik sejumlah khalayak untuk berkunjung menyaksikan penampilan dari sejumlah band lokal, apalagi terdapat dua band tamu, Rajasinga dan Morfem yang turut memuaskan eargasme para penontonnya.

Di sesi akhir, Jimi Multhazam vokalis Morfem memberikan tanggapannya mengenai acara yang berlangsung. "Kami salut karena ada banyak gelaran clothing expo yang tidak memikirkan sound yang bagus, dan ternyata di Palu Clothing Expo justru pengaturan sound-nya sangat diperhatikan sekali. Jadi bukan cuma clothing-nya saja, tetapi konsernya pun menjadi maksimal."

"Kami juga sempat melihat beberapa penampilan dari band lokal, seperti Sick Stupid, Veteranism, dan Superfalz yang ternyata tak kalah hebatnya. Mereka itu bisa jadi calon-calon band yang besar tidak hanya di Kota Palu. Mudah-mudahan sih yah kalau bisa main terus biar dapat berkembang di seluruh Indonesia.", Ujar Jimi dan Freddie drummer Morfem.

Walaupun pada konsep dasar acara yang digelar seharusnya menonjolkan clothing sebagai hal yang utama, namun terlihat dari antusias para penonton yang hadir juga begitu menikmati seluruh sesi acara, baik itu suguhan dari musik, clothing-an, kulineri, maupun komunitas.


Rahmat Dwi Hardianto Ketua Panitia, mengungkapkan bahwa sebelumnya sejumlah clothing atau distro yang berada di Kota Palu diundang dan diharapkan dapat mengisi 20 stan yang tersedia di gelaran peradana Palu Clothing Expo. "Kami sudah berupaya semaksimal mungkin agar Palu Clothing Expo ini menjadi gelaran fesyen yang dapat menonjolkan clothing-an yang berada di Kota Palu". Ujarnya.

Salah satu clothing, Enin Clothes Store, Ugha menyampaikan gelaran perdana Palu Clothing Expo ini menjadi momentum bagi distro-distro atau brand yang ingin mempromosikan jualannya. Apalagi acara yang seperti ini baru saja digelar di Kota Palu, jadi kami yang bergerak di bidang fesyen juga harus saling mendukung untuk dapat meramaikan penyelenggaraan acara perdana Palu Clothing Expo. "Dengan biaya sewa stan seharga 550 ribu, saya anggap itu harga yang cukup sebagai kegiatan promosi apalagi dalam acara yang digelar semeriah ini." ungkapnya.

Diharapkan pula, Palu Clothing Expo tidak hanya sampai disini, mungkin di tahun depan dapat digelar lagi dengan memberikan konsep acara yang lebih maksimal. Selain itu pihak pemerintah juga bisa membantu, serta menengok pertumbuhan industri kreatif khususnya di bidang fesyen atau clothing. Apalagi di Kota Palu terdapat beberapa produk lokal yang seharusnya dapat diperkenalkan kepada masyarakat luas, dan Kota Palu pun juga bisa dikenal bukan karena konfliknya.

Share this:

Post a Comment

 
Copyright © blog.berandaagung. Designed by OddThemes