Ads Top

KOLEKTIF PALU: Edukasi Komunitas Melalui Workshop dan Pemutaran Film


Yayasan Cipta Citra Indonesia bekerjasama dengan beberapa komunitas film, seperti Cinema Poetica, Bioskop Jumat, dan juga Perpustakaan Mini Nemu Buku, telah melaksanakan sebuah program bertajuk “KOLEKTIF PALU”.

Dengan Menghadirkan Meiske Taurisia (produser & distributor film, KOLEKTIF) dan Adrian Jonathan (programmer & kritikus film, Cinema Poetica) sebagai pembicara dalam dua muatan rangkain acara dilaksanakan, yaitu Pemutaran Film yang disertai diskusi, dan juga Workshop mengenai Manajemen Komunitas. Berlangsung pada 4 – 7 September 2014, di Rumahlogi, Jln. Gn. Sidole, 15, Palu Timur.

Program KOLEKTIF ini tidak hanya digelar di Kota Palu, tetapi juga terdapat di daerah lainnya, seperti KOLEKTIF Bali, Surabaya, serta menyusul beberapa kota lainnya di Indonesia. Program tersebut juga didukung oleh Badan Perfilman Indonesia serta Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Adapun film-film yang diputarkan di KOLEKTIF PALU, meliputi Kompilasi Film Pendek Gayaman dan Ladrang dari Festival Film Solo; Lovely Man karya teddy Soeriaatmadja, Karuna Pictures, Jakarta.; Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya karya Yosep Anggi Noen, Limaenamfilms, Jogjakarta.; serta Rocket Rain karya Anggun Priambodo, Babibutafilm, Jakarta.

Workshop Manajemen Komunitas
Pada pelaksanaan di hari pertama kegiatan KOLEKTIF PALU, diawali oleh rangkaian Workshop Manajemen Komunitas yang berlangsung selama empat hari. Dengan diikuti oleh 6 komunitas yang telah mendaftarkan diri sebelumnya, antara lain Bioskop Jumat, KOPHI Sulteng, Palu Skateboarding, Libu Ntolare, Serrupa, dan Forum Lingkar Pena Palu.

Workshop ini bertujuan membuka forum dengan komunitas-komunitas setempat melalui kegiatan diskusi perkara pemberdayaan sumber daya manusia dalam komunitas dan pemanfaatan sumber daya lain di sekitar komunitas, sehingga nantinya bisa menghasilkan rangkaian program kerja yang berkesinambungan dan berkelanjutan antar komunitas.

Sementara itu, ruang lingkup pembahasan awal dalam workshop dimulai dari perkenalan industri film, dana publik, pemaparan dan pengenalan komunitas, serta diskusi informal. Sebagaimana penjelasan yang diberikan oleh Adrian, yaitu tentang regulasi perfilman, dengan pembahasan mekanisme dasar dalam mengenali hubungan kerja antara pemerintah dan publik (komunitas)


Pengetahuan mengenai perspektif komunitas, swasta dan negara, pasar maupun publik, juga menjadi penjelasan umum yang mendasari pola pikir komunitas dalam melaksanakan kegiatan-kegiatannya melalui ruang dan program yang terencana sehingga nantinya dapat dikenali oleh masyarakat  pada umumnya.  

Selain itu, adapun pemahaman yang diberikan oleh Meiske mengenai pemetaan masalah yang biasanya terjadi di dalam komunitas, seperti masalah pendanaan, pengembangan, produksi dan distribusi. Memanajemen komunitas juga dikatakan sama halnya seperti negara versus publik, yang dimana terdapat pemahaman-pemahaman yang harus disesuaikan, sehingga keduanya dapat menemukan alur dan proses yang tepat untuk melangsungkan suatu hubungan atau kerjasama dalam mencapai tujuan dan manfaat bersama.

Sebagai langkah awal melaksanakan praktek materi, komunitas pun diajarkan untuk mengetahui dan memahami apa yang sedang dimiliki, yaitu kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman. Atau yang biasa dikenal dengan sebutan SWOT (Strength, Weakness, Opportunities, Threats). Masing-masing komunitas dituntun untuk membuat analisis SWOT dengan melihat persoalan-persoalan yang sering bermunculan dalam komunitas itu sendiri, ruang lingkupnya ialah pendanaan, akses atau jaringan komunitas, sumber daya manusia, dan komitmen anggota.

Para peserta yang telah diiberikan tugas membuat analisis SWOT, mulai memaparkan dan mendiskusikannya di forum sebagai bahan pembelajaran dan evaluasi dari masing-masing komunitas. Namun kebanyakan dari hasil analisis SWOT yang dibuat oleh komunitas, tersimpulkan bahwa kurangnya pemikiran secara internal komunitas yang berani menantang diri sendiri. Maksudnya, sebuah komunitas bisa bertahan dan berkembang jika komitmen yang telah dibangun dari awal bisa dipertahankan, dengan catatan harus terus melatih kemampuan komunitas dalam melaksanakan berbagai kegiatan secara rutin, baik internal maupun eksternal.

Sementara itu, tata kerja anggota sangat berpengaruh dalam melangsungkan program-program komunitas. Tetapi hal itupun akan dapat diatas jika komunitas telah memiliki visi yang dijadikan sebagai hasrat dan misi sebagai siasat. Visi yang dibentuk pun harus berkomitmen sehingga berkelanjutan pada kebijakan program-program atau kegiatan yang ditentukan. Begitu juga halnya misi sebuah komunitas dapat ditentukan dari siasat-siasat para individu yang berada dalam komunitas itu sendiri agar pada pelaksaannya seiring dengan tujuan bersama.

Selama empat hari pelaksanaan workshop, peserta ditantang membuat perencanaan kegiatan, semacam proposal yang berisikan profil komunitas, pendanaan, serta promosi dan periklannya. Demikian masing-masing komunitas merancang proposalnya, antusias dalam membuat program kegiatan terlihat sangat jelas dari para peserta. Sejumlah perencanaan pun dibuat sedemikian rapi. Hingga pada sesi presentase proposal, para peserta diharapkan unutk memaparkan hasil perencanaannya.

Dalam penilaian rancangan proposal yang dibuat oleh para peserta workshop, dikatakan bahwa perlunya penguatan visi dan misi unutk menjadi landasan dan hal yang terpenting dalam merancang program-program kegiatan. Kefokusan terhadap program kegiatan juga harus yang konkret sesuai tujuan dan komitmen dalam komunitas. Adapun permasalahan dari komunitas yang dikatakan biasa dialami, yaitu kurangnya relasi atau hubungan ke pihak pemerintah daerah maupun swasta yang diharapkan dapat membantu dan menaruh perhatian khusus. Namun hal itu juga kembali lagi dari anggota dalam komunitas itu sendiri, sejauh apa usaha yang dilakukan untuk melangsungkan program-program yang dingin dicapai oleh komunitas.


Pemutaran Film Dengan Donasi
Di sela-sela kegiatan workshop yang sedang berlangsung selama empat hari itu, dua hari diantaranya, tanggal 5 – 6 September 2014 diselingi oleh pemutaran film dengan donasi melalui tiket seharga Rp. 15.000,- yang dibuka secara umum buat para penonton.

Tercatat hanya sekitar 20 – 30 penonton yang hadir pada pemutaran film selama dua hari itu. Penyediaan ruangan yang berukuran tidak begitu luas ternyata tidak menjadi masalah, apalagi ketika suasana yang begitu hangat dapat menjalin interaksi diantara para penonton satu dengan yang lainnya.

Dengan dua kompilasi film pendek dan tiga film panjang yang disajikan di pemutaran, ternyata banyak mengundang perhatian penonton pada saat memasuki sesi diskusi bersama sutradara masing-masing film yang dihubungi melalui video call. Beberapa pertanyaan yang sering dilontarkan secara umum ialah mengenai alur cerita, pengisahannya.

Film-film yang ditampilkan memang sangat berbeda dari tayangan film pada umumnya seperti yang sering terdapat di televisi. Film-film yang diputarkan dalam komunitas terlihat lebih condong pada muatan nilai-nilai budaya dan edukasi yang ringkas melalui pengisahan serta penguatan dalam penyajiannya. Sehingga banyak pula karya film tersebut berhasil mendapatkan sejumlah penghargaan khusus dari yayasan, lembaga atau komunitas yang mengenal dunia perfilman secara apresiatif.

Sementara itu, film-film yang disajikan di Kolektif Palu memiliki ketertarikan tersendiri dari para penontonnya. Salah satunya, ialah film yang berjudul Rocket Rain. Film yang disutradari oleh Anggun Priambodo itu, ternyata menimbulkan sejumlah pertanyaan dari para penonton. Bertepatan pula film tersebut juga diproduseri oleh Meiske Taurisia yang sedang hadir langsung di tempat pemutaran, sehingga pada sesi diskusi mengenai Rocket Rain, pertanyaan tidak hanya diajukan buat sang sutradara, tapi juga kepada si produser yang mengetahui prosesi pembuatan film tersebut.

Film Rocket Rain memiliki keunikan tersendiri diantara film-film lainnya yang diputar saat itu. Yang dimana pemeran utama film tersebut ialah sutradaranya sendiri. Selain itu, penyajian film yang absurd ditampilkan oleh sang sutradara dengan latar belakang menceritakan kisah pribadinya mengenai masalah pernikahan yang dialami. Menjadi penutup kegiatan, Rocket Rain berhasil membuat para penontonnya bereaksi untuk menyelami hal-hal apa saja yang terdapat dibalik film tersebut.

Di akhir pelaksanaan kegiatan, program “KOLEKTIF PALU” terbilang sukses pada praktiknya. Sebagai langkah awal terbilang sangat memberi imbas yang positif buat para peserta workshop maupun penonton film yang telah berpartisipasi. Harapan pun bermunculan agar kegiatan-kegiatan yang semacam itu seharusnya bisa diselenggarakan secara berkala melalui pengembangan-pengembangan gagasan yang dibutuhkan.

Begitu pula dari pihak panitia mengharapkan nantinya bisa kembali menggelar kegiatan yang serupa. Namun tidak lain, penyelenggaraan program-program yang seperti itu juga tak lepas dari dukungan semua pihak, pemerintah maupun swasta yang terkait agar dalam pelaksanaannya bisa menyajikan kegiatan yang lebih maksimal untuk terus mendorong pengembangan edukasi di kalangan masyarakat daerah, khususnya Kota Palu.

Share this:

Post a Comment

 
Copyright © blog.berandaagung. Designed by OddThemes