Ads Top

Yusuf Radjamuda Membawa Karya Filmnya Hingga Ke Mancanegara

Screenshot Film "Halaman Belakang"
Film pendek adalah salah satu bentuk film yang paling sederhana dan paling kompleks. Bila disimak sekilas, film pendek seperti sebatas cerita singkat yang berlalu dalam bingkai layar kaca melalui kemasan yang mungkin bisa langsung terbaca isi ceritanya. Namun, hal itu juga bisa saja terbantahkan bila terdapat penguatan ide dan karakteristik yang disajikan di dalam film pendek, sehingga menghasilkan berbagai sudut pandang dengan menegaskan makna dari artikulasi yang dihasilkan oleh sang sutradara di dalam karya filmnya.  

Demikian juga halnya yang telah dibuktikan oleh Yusuf Radjamuda, ia dikenal sebagai seorang Filmmaker atau Sutradara film pendek. Walaupun ia belajar membuat film hanya secara otodidak, namun pria yang biasa dipanggil “Papa Al” ini berhasil membuktikan beberapa karyanya yang cukup dikenal oleh sebagian besar para penggiat film, diantaranya yang berjudul, Cuma 5 Ribu (2009), Potret Diri (2010), Wrong Day (2011), Matahari (2012) dan Halaman Bel
akang (2013).

Yusuf Radjamuda, biasa disapa "Papa Al"
Papa Al, atau Yusuf Radjamuda lahir di Tanjung Padang, 7 Mei 1979. Ia berperawakan tidak terlalu tinggi, dengan kulit berwarna agak kecoklatan, rambutnya ikal, dan pendek. Sebagian besar ia menjalani waktu hidupnya di Kota Palu bersama keluarga tercinta. Papa Al terlahir dalam keluarga sederhana yang ternyata cukup menggemari dunia kesenian. Ketika masih bersekolah di bangku SMP dan SMA, Papa Al adalah seorang penggila film Hong Kong dan India. Ia juga pernah menjadi seorang pemusik dalam sebuah band yang dibentuknya, namun menjadi seorang musisi saat itu hanyalah sebagai kesenangan semata. Hingga pada akhirnya, kemungkinan dari kecintaannya pada hal-hal yang berbau kesenian itulah telah membawa Papa Al saat ini tengah menggeluti kegiatan keartistikan dengan pilihan menjadi seorang sutradara.

Sementara itu, ketertarikan secara mendalam di dunia perfilman ternyata tengah dilakoni oleh Papa Al pada tahun 2006, yaitu ketika ia turut serta mengikuti secara langsung proses pembuatan film yang dibuat oleh temannya. Yang kemudian dari situlah terjalinnya motivasi dan keinginan Papa Al untuk membuat karya film dari hasil daya pikirnya. Papa Al demikian terinspirasi membuat film. Produksi pertamanya adalah Sahabat Dan Harapan (Teman dan Harapan). Berdurasi hanya 13 menit, film tersebut bercerita tentang dua anak putus sekolah yang harus berpisah karena salah satu dari mereka telah mendapatkan beasiswa untuk biaya sekolahnya. Selain itu, inspirasi dalam pembuatan film, Papa Al banyak mendapatkannya dalam khayalan-khayalan yang berproses dari melihat kejadian nyata di sekitar ruang lingkup kehidupannya.

Mengenai teori dan teknik pembuatan film yang diterapkan, Papa Al merasa tidak begitu tahu-menahu bagaimana dalam menjelaskannya, sebagaimana yang dikatakannya bahwa dalam proses pembuatan film biasanya hanya berdasarkan naluriah. “Saya membuat film secara naluriah, apa yang ingin saya bikin maka saya harus bikin. Dengan menyesuaikan jalan ceritanya, lalu membiarkan prosesnya mengalir begitu saja sampai saya mendapatkan rasa yang tepat dalam cerita tersebut”.

Papa Al Saat Berada di Festival Film Solo
Dalam proses pembuatan film mulai dari penulisan skrip sampai penyelesaian produksi, Papa Al biasanya membutuhkan waktu yang cukup panjang agar mendapatkan hasil yang baik. Seperti film yang berjudul, Halaman Belakang, pengerjaannya terselesaikan selama 4 bulan. Saat ditanyakan ditanyakan juga mengenai hal apa saja yang biasanya menjadi kendala Papa Al dalam pembuatan film, ia mengatakan terdapat banyak hal yang seharusnya perlu diperhatikan, yaitu mempersiapkan segalanya yang berkaitan dalam proses dan pengerjaannya. Dan itu relatif. Tapi mungkin yang paling sulit ialah bagaimana memutuskan sebuah rencana dengan segala persiapannya, apakah harus segera mengeksekusi ataukah tidak? Tidak baik juga kalau terburu-buru dalam melakukan sesuatu. Maka disini, sebuah keyakinan terhadap sesuatu yang harus dilakukan sangat menentukan dalam mencapai suatu kematangan.

Dengan mengikuti berbagai ajang festival, diskusi atau workshop mengenai film, Papa Al banyak mendapatkan pelajaran dan pengetahuan dari orang yang memiliki wawasan yang berbeda-beda. Salah satunya, pelajaran yang dapat dipetik dalam perfilmannya ialah penentuan referensi. Papa Al kerap melihat sisi terpenting dari film-film yang berada di festival itu kebanyakan tidak mudah kita dapatkan, apalagi untuk menontonnya, dan itu jarang ada yang tersebar di internet. Papa Al juga mengatakan, ia sering mendapatkan hal-hal baru di berbagai acara, yang dimana terdapat beragam karya film beserta orang-orangnya yang sangat menginspirasi. Jadi, di dalam sebuah festival, orang-orang yang tergabung di acara tersebut sebenarnya tidak hanya sebagai ajang perlombaan, melainkan juga bisa dijadikan sebagai tempat bertukar wawasan dengan berbagi pengalaman, ilmu dan pengetahuan, entah itu tentang dunia perfilman, bahkan bisa jadi yang lainnya.

“Sebaiknya teman-teman yang minat dengan dunia perfilman, harus lebih sering datang ke festival, karena di dalam sebuah gelaran festival itu bukan hanya sekedar melihat banyak film untuk dijadikan referensi, tetapi juga kita bisa bertemu dengan orang-orang yang dapat mengembangkan wasasan dan pengetahuan kita, seperti adanya para programmer, produser, bahkan juga kerap terdapat workshop yang bisa kita ikuti sajiannya”.

Papa Al Bersama Tim Produksi Fim "Halaman Belakang"
Sementara itu, beberapa karya film Papa Al banyak menarik minat para pegiat film secara nasional maupun internasional untuk ditampilkan atau sekedar melakukan diskusi mengenai dunia perfilman. Salah satunya, film Halaman Belakang yang pernah memenangkan kategori film pendek di Festival Film Solo (FFS) dan Apresiasi Film Indonesia (AFI), juga pernah ditampilkan di Jakarta International Film Festival (JiFFest). Bahkan film tersebut mendapatkan undangan ke Festival Film Internasional Dubai. Karya film lainnya, berjudul Wrong Day, tak lain pun pernah mendapatkan apresiasi film terbaik di Festival Film Malang 2011, dan Festival Film Indonesia 2011, serta menerima penghargaan khusus yang membuatnya mendapatkan undangan untuk Goethe Institut, Jerman. Dalam beberapa tahun ini sejumlah undangan skala nasional maupun internasional banyak diterima oleh Papa Al, demikian hal itu juga menjadii cara menjalin hubungan bersama para pegiat film yang berada di lur Kota Palu untuk mengembangkan dunia perfilman secara lokal.

Bicara mengenai konsistensi dalam berkarya, ternyata Papa Al menganut paham “satu tahun satu film”. Yang dimana sejak 2009 hingga 2013, Papa Al selalu menghasilkan karya film di tiap tahunnya. Dan tahun 2014 ini, diakui oleh Papa Al masih menjadi tanda tanya untuk dapat menghasilkan sebuah karya film. Sehingga bisa jadi pernyataan “satu tahun satu film” itu akan terpatahkan, dikarenakan masih disibukkan dengan berbagai urusan lainnya, dan juga belum ada persiapan khusus untuk kembali menghasilkan sebuah karya film.

Papa Al Berfoto Ria Saat Menghadiri Undangan Pertemuan Para Penggiat Film
Demikian Papa Al juga menyatakan harapannya agar makin banyak ruang yang dapat diberikan untuk bakat baru yang biasanya kurang atau bahkan tidak mendapatkan kesempatan yang baik dalam mengembangkan potensinya. Terkhususnya di Kota Palu, di dalam beberapa waktu ini untungnya mulai aktif mengadakan berbagai kegiatan pemutaran film, workshop, produksi film yang disertai eksebisi dan kritik film. Dengan adanya kerjasama ke beberapa lembaga, festival film dan komunitas yang berada di luar Kota Palu, sangat diharapkan nantinya dapat membuka ruang-ruang tersebut, sebagaimana hal itu untuk mencapai perkembangan dunia perfilman di Kota Palu, yang secara umum Indonesia menuju internasional.

Share this:

Post a Comment

 
Copyright © blog.berandaagung. Designed by OddThemes