Ads Top

Pameran Lukisan Tunggal, Endeng Mursalin. Karya Kreatif, Beraroma Kritis


Dilatarbelakangi oleh kepengapan dan keresahan terhadap sejumlah permasalahan Lingkungan, Sosial dan Politik yang berkembang dalam pembicaraan masyarakat di Kota Palu. Endeng Mursalin, seorang perupa juga seniman lokal di Kota Palu, mendapatkan inspirasinya yang secara gamblang dituangkan ke dalam bentuk karya - karya seni rupa.

Melakukan eksplorasi karya seni rupa dengan membawa konsep kreatif yang sangat kritis, hal itu ditunjukkan oleh Endeng melalui karya-karyanya dalam sebuah gelaran Pameran Lukisan Tunggal, bertajuk “Tradisi Hitam Putih” yang dilaksanakan pada 18 – 24 Agustus 2014, di Palu Golden Hotel.

Pembukaan acara diresmikan langsung oleh Kasubdit Pembinaan Seni Rupa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Drs. Pustanto, MM. Dan diramaikan oleh sejumlah pegiat seni serta para pelajar yang berantusias melihat karya Endeng. Ada yang menarik saat hari pertama acara berlangsung, ternyata ada beberapa lukisan-lukisan yang terpajang, tidak sepenuhnya selesai dikerjakan oleh Endeng. Terdapat gambar kotak kosong di sela-sela gambar dalam lukisan dengan mengajak para pengunjung agar dapat melengkapi makna gambar pada lukisan. Penonton pun turut menuliskan sepatah kata-kata sembari memberikan penguatan terhadap lukisan-lukisan yang terpajang.

Tajuk “Tradisi Hitam Putih” dimaknai dengan melihat ruang di masa lampau yang sederhana tanpa adanya perusakan atas dasar kekuasaan dan kepentingan pribadi para penguasa. Sehingga dikatakan perlunya menjaga tradisi untuk masa kini maupun yang akan datang sebagai suatu pelajaran berkehidupan umat manusia. Seperti halnya bahwa di dalam seni panggung ruang hitam, atau ruang gelap menjadi tantangan untuk menghadirkan proses penjadian eksistensi manusia dan lingkungannya. Dan itu senantiasa berhubungan dengan sebagaimana kita mengenal sejak masa anak-anak.

Disini, Endang memamerkan karya-karya lukisan realisme yang banyak menceritakan fenomena kenyataan yang terjadi disekitarnya, ada salah satu karya lukis yang ditampilkan menceritakan kebijakan pemerintah daerah yang merencanakan pembangunan lahan parkir di sebuah taman kota, namun dengan cara menebang sejumlah pepohonan disekitarnya. Padahal itu dilakukan hanya demi kepentingan komersil kaum elit, para pengusaha, yang sangat tidak mengindahkan nilai-nilai pelestarian lingkungan. Hal-hal seperti itulah yang menjadi protes kekecewaan Endang, yang akhirnya dituangkannya dalam bentuk karya lukis yang dipamerkan selama enam hari ini.

Selain itu, ada juga terpampang dua lukisan berwarna diantara karya lainnya, terlihat disana potret diri Endang yang tengah teriak lantang. Mulutnya terbuka, sebagian giginya tampak, dan di tubuhnya seperti berada dalam kepungan berbagai persoalan seperti masalah impor yang menusuk daya kemandirian bangsa, dan lainnya.

Mengenal Endeng Mursalin


Endeng Mursalin, kelahiran Parigi, 3 November 1965, telah menggeluti dunia kesenian sejak masih berumur belia atau kanak-kanak. Hingga memasuki usia remaja, Endeng yang sedang bersekolah di Ibukota, Jakarta, banyak mempelajari seni rupa dari pertemanannya bersama para seniman jalanan. Saat itulah, sikapnya dalam berseni mulai didalami. Endeng pun menghasilkan karya-karya lukis yang diikutkan ke berbagai pameran, pada tahun 1983, salah satunya pameran yang diikutinya, ialah pameran lukisan “Lingkungan Hidup” di Duta Marlin Jakarta. Merasa bangga dalam berkesenian, Endang banyak menjajal ibukota bersama para seniman lainnya yang kala itu mencoba berjuang menghadapi gejolak masa orde baru, namun Endeng pun sering berpindah-pindah kota tempat tinggal membuat karirnya di dunia kesenian dilelang oleh waktu.

Memang diakui oleh Endeng bahwa sampai saat ini ia tidak memiliki prestasi, apalagi yang diberikan dari pihak pemerintah. ia hanya saja melakukan hal-hal sebagaimana yang sesuai dengan pemikirannya, sehingga sebuah apresiasi secara formalitas sangatlah jarang didapatkannya. Akan tetapi, dari karya-karyanya ia juga sering melancong mengikuti pameran-pameran lukisan di berbagai kota.

Tahun 2013 lalu, Endeng mengikutkan karyanya dalam pameran seni rupa nusantara, “MetaAmuk”, di Galeri Nasional, Jakarta. Dalam pameran tersebut melibatkan sekitar 115 karya perupa terpilih dari 25 Provinsi. Dan untuk saat ini Endeng juga banyak meluangkan waktunya mengajar kesenian kepada para pelajar, ia juga memilih sebuah sanggar seni yang menjadi wadah bagi siapa saja yang ingin belajar mengenai kesenian. Ia sangat berharap kepada masyarakat di Kota Palu yang menggeluti kesenian agar terus berkarya dan berkreasi sedemikian rupa, sehingga nantinya dapat diapresiasi oleh masyarakat luar, sekalipun memang di Kota Palu masih kurang pelaksanaan kegiatan yang mendapatkan dukungan penuh untuk membangkitkan semangat berkesenian, demikian tangkasnya.

Share this:

Post a Comment

 
Copyright © blog.berandaagung. Designed by OddThemes