Ads Top

Today's Highlights

Notes

International

Latest Updates

10 Motivasi Untuk Mahasiswa Tingkat Akut

20:14
google.com
Berdasarkan pengalaman pribadi selama kuliah dengan masa studi lebih dari 4 tahun, berikut ini terangkum 10 kejadian yang mungkin dapat memotivasi mahasiswa tingkat akhir agar segera menyelesaikan studinya.

1. Tibanya momen dilamar atau melamar
Tidak sedikit mahasiswa(i) yang merasa keren kalau diundangan pernikahannya tercantum namanya lengkap dengan gelar. Untuk itu, mereka berusaha lebih untuk bisa segera dapat gelar sarjana.
2. Kewajiban bayar SPP
Adanya spanduk tagihan biaya semester di depan bank kampus dengan tanggal deadline yang terkadang menyesakan pikiran dan perasaan.
3. Satu persatu teman-teman ikut wisuda
Teman yang awalnya dianggap biasa-biasa saja malah terlihat lebih berseri setelah wisuda. Entahlah cahaya itu seakan tampak secara tak terduga.
4. Biaya hidup semakin menjadi mendesak
Saat teman kos lainnya sudah mulai mengirim barang barangnya balik ke kampung halaman, ada yang masih harus memikirkan waktu baiknya untuk minta uang kos ke orang tua. Hmmm..
5. Ancaman Drop Out (DO)
Suatu ketika sering dihantui oleh ancaman tiba-tiba dengan terdengarnya kabar miring banget tentang tenggat waktu yang akan mengusir eksistensi mahasiswa tingkat akhir dari kampus.
6. Tekanan dari orang tua/ keluarga
Dalam percakapan bersama orang tua pas selalu dikaitkan dengan kode atau tanda besar, "kapan kau selesai kuliah? Disitu kadang hati menjadi gusar (please jangan bahas kuliah ya Ma, Pa)
7. Berharap dapat berteman dengan dosen melalui media sosial
Ada juga dosen yang sudah lebih dari 10 kali di add tapi tidak juga mengkonfirmasi, cek per cek dianya hanya mau konfirmasi permintaan pertemanan dari mereka yang sudah alumni. Sedihnya.
8. Tuntutan dari tempat kerja
Atasan kadang jadi kayak orang tua sendiri yang menuntut untuk segera menyandang gelar sarjana. Wow banget kan?!
9. Tekanan dari satu kata "KAPAN"
Entah dari mulut siapapun keluarnya, biasanya setelah memasuki semester baru, hanya ada satu kata itu yang terbenak dalam sanubari mahasiswa tua. Betapa beracunnya kata 'KAPAN' untuk hari-harinya.
10. Kurang kerjaan, sibuk urusan lain
Yah, mungkin sebelumnya ada yang sibuk kerja, jadi petugas sensus ekonomi misalnya, dan selepas itu belum dapat kerja lainnya, dan ternyata wisuda masih menjadi hantu yang bergentayangan. Ya sudahlah back to campus!



Demikian nomor berapa yang menjadi motivasimu??? Yang alasannya belum tercantum, segera temukan alasanmu dan perkaya khazanah motivasi mahasiswa untuk segera lulus.

Tenanglah teman, semua akan wisuda pada waktunya.


Oleh: Intan Rukmana -
Alumni Universitas Tadulako
Kontak: 0853-9924-1481

Duo Diamond Kolaborasikan Produk Bercita Rasa Khas Sulteng

17:34

Dari bandana bermotif batik bomba, ikan teri krispi, sampai bawang goreng, semuanya dikemas dan dikolaborasikan menjadi produk bermerek Duo Diamond melalui pengolahan industri rumahan, ujar Nur Intan Sunusi sebagai penggagas Duo Diamond. Minggu (23/7/2017).

Intan menjelaskan antusiasnya mengangkat Duo Diamond berawal dari pembuatan bandana yang diinisiasi seorang teman saat mengikuti kegiatan nasional Duta Genre. Dalam kesempatan tersebut, muncul gagasan untuk bekerjasama membuat produk bandana; kain yang diikatkan di kepala atau leher dengan bahan kain batik bomba khas Sulawesi Tengah, yang kemudian dibagikan ke setiap perwakilan daerah provinsi Se-Indonesia.

Sebelumnya Intan telah merintis kegiatan usahanya sejak tahun 2015, dengan melihat potensi dan peluang dari produk khas daerah Sulawesi Tengah yang dapat dikembangkan, seperti olahan kuliner dari ikan teri dan bawang, hingga bandana berbahan kain batik Bomba.

Penjualan Duo Diamond terbilang cukup lancar setiap bulannya, dengan memproduksi masing-masing 2kg ikan teri krispi dan bawang goreng dalam kemasan 50gr yang dijual seharga 15ribu. Sedangkan produk bandana rata-rata mencapai sekitar 30-40 lembar dalam sebulan yang disesuaikan dengan pesanan produksi, ungkapnya.

Saat ini promosi Duo Diamond sering dilakukan melalui media online untuk menjangkau pesanan dari berbagai daerah. Kebanyakan pesanan produk Duo Diamond sebagai cenderamata dan hadiah saat mengikuti kegiatan nasional. Bandana biasanya digunakan sebagai atribut dalam kegiatan yang dihadiri perwakilan atau delegasi daerah.

Kecintaan pada daerah kelahiran menjadi kebanggaan tersendiri bagi Nur Intan Sunusi, apalagi dapat membuat produk khas Sulawesi Tengah. Berlatar belakang sebagai seorang mahasiswa dengan pengalaman mengikuti kegiatan Putri Pariwisata Sulawesi Tengah 2016 bernomonasi best presentation, membuatnya juga ingin dapat memberikan kontribusi dalam perkembangan daerah Sulawesi Tengah. “Banggalah jadi anak daerah dengan berkarya. Semoga Duo Diamond bisa dikenal secara nasional bahkan internasional”, harap Intan.


Membangun Sinergitas Pemanfaatan Internet Dari Generasi Millenial

20:17
image: qureta.com
Tantangan dan Peluang Generasi Abad 21”

Tibanya era informasi telah mengubah wajah dunia yang seakan diretas oleh teknologi termutakhir bernama interconnection-networking atau yang disingkat Internet, yaitu suatu sistem komputerisasi dalam jaringan global yang menghubungkan berbagai hal satu sama lainnya untuk saling bertukar pesan. Perkembangannya semakin meluas dan membawa pengaruh yang sangat signifikan, bahkan perlahan-lahan nampak menggeserkan perilaku tradisional di samping modernitas yang maju bersama kelahiran generasi millennial.

Generasi millenial atau Millenials adalah kelompok demografis (cohort) setelah Generasi X. Generasi yang lahir diantara tahun 1980-an sampai 2000-an biasanya dikatakan sebagai generasi millennial. Jadi dapat dikatakan generasi millennial adalah generasi muda masa kini yang saat ini berusia dikisaran 15 – 34 tahun, dengan persentasenya mencapai 34,45% dari jumlah populasi penduduk Indonesia. Generasi millenial Indonesia pun akan berperan penting jika dilihat dari skala jumlah populasi penduduk se-Asia Tenggara. Mengutip informasi dari swa.co.id, dari sepuluh negara anggota ASEAN diperkirakan jumlah total penduduknya mencapai 625 juta dan sebanyak 23%-nya adalah generasi millenial dari Indonesia.

Popularitas Internet terus meningkat bertepatan dengan eksistensi generasi millennial. Dalam suasana futuristik generasi millenial pun saat ini tentunya sedang menikmati kecanggihan perkembangan teknologi yang jelas sangat berbeda dari era sebelumnya. Namun terdapat tantangan sekaligus peluang tersendiri yang harus dihadapi secara khusus pada pertumbuhan generasi millenial itu sendiri. Jumlahnya diprediksi akan mendominasi populasi penduduk usia produktif dalam kurun waktu 5 sampai 10 tahun ke depan. Generasi muda di Indonesia memerlukan perhatian penuh di tengah globalisasi yang dapat mengekang dan mengikis kearifan lokal bangsa atas nama modernitas. Millenials Indonesia memiliki peluang untuk memanfaatkan perkembangan teknologi internet beserta ketersedian informasi secara global sembari menjalin konektivitas dan kolaborasi dalam kesatuan bangsa Indonesia.


Kita ketahui bahwa internet telah memudahkan pengaksesan data dan informasi secara meluas yang terhubung dari berbagai sumber seperti melalui media online, olehnya itu pun diperuntuhkan untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan penggunanya. Namun perlu disadari pula bahwa penggunaan internet turut membentuk perilaku tertentu dari penggunanya yang kemudian akan memberikan dampak pada keberlangsungan hidup manusia serta lingkungannya. Hal tersebut tentunya menjadikan kita agar dapat memposisikan diri dalam memahami ruang lingkup dari perkembangan teknologi.

Menurut Blummer, J.G., dan E. Katz, ed. (1974), dikemukakan bahwa terdapat perilaku tertentu yang dapat dilihat berdasarkan kebutuhannya dalam menggunaan media online, diantaranya kebutuhan secara kognitif, afektif, integratif personal, integratif sosial maupun hiburan sebagai pelepasan emosi.

Pengertian dari perilaku itu sendiri merupakan hasil dari segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Dengan kata lain, pentingnya menyadari perilaku dengan memahami, menyikapi, serta melakukan tindakan yang tepat, sehingga dapat mencapai tujuan dari penggunaan teknologi internet secara keseluruhan dalam kehidupan sehari-hari. Penggunaan internet dengan platform seperti media sosial kebanyakan dimanfaatkan oleh generasi muda sebagai ruang eksistensi gaya hidup yang kian mengarah pada pemaknaan identitas, dan juga tanpa sadar menciptakan lingkungan pengguna yang memiliki egosentris secara personal maupun kelompok dalam tautan masyarakat virtual.

J. Sudriyanto, (1992:4) menjelaskan egosentris didasarkan pada keharusan individu untuk memfokuskan diri dengan tindakan apa yang dirasa baik untuk dirinya. Egosentris mengklaim bahwa yang baik bagi individu adalah baik untuk masyarakat. Orientasi etika egosentris bukannya mendasarkan diri pada narsisisme, tetapi lebih didasarkan pada filsafat yang menitikberatkan pada individu atau kelompok privat yang berdiri sendiri secara terpisah seperti “atom sosial”. Merespon hal tersebut maka perlunya penanganan edukasi sejak dini dalam memanfaatkan teknologi internet berserta ketersediaan informasi secara tepat guna.


Melihat hasil survei yang dilakukan oleh APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia), jumlah pengguna Internet di Indonesia terus mengalami kenaikan sebesar 44,6 juta dalam waktu 2 tahun (2014 – 2016). Jika dibandingkan pada tahun 2014 yang hanya sebesar 88,1 juta pengguna, di tahun 2016 adalah 132,7 juta pengguna atau sekitar 51,5% dari total jumlah penduduk Indonesia sebesar 256,2 juta. Meningkatnya penggunaan internet pun diperlukan kesadaran masyarakat dalam pemanfaatannya yang tidak hanya sebagai peluang komersialisme, tetapi juga dapat memberikan kontribusi dan edukasi dalam kemajuan bangsa Indonesia.

Di sisi lain mengenai perilaku penggunaan Internet pun meningkat bersamaan dengan budaya konsumerisme masyarakat Indonesia, yang terlihat dari kebanyakan mengunjungi konten web onlineshop mencapai sebesar 82,2 juta pengguna atau 62%, bisnis personal 45,3 juta pengguna atau 34,2%, dan lainnya 5 juta pengguna atau 3,8%. Berdasarkan data tersebut maka diperlukan penanggulangan yang dapat mengarahkan populasi generasi millenial Indonesia untuk mengambil peran baik dalam memanfaatkan perkembangan teknologi dan ketersediaan informasi.

Millenials membutuhkan kolaborasi serta kolektivitas dari setiap individu yang memiliki caranya masing-masing dalam memenuhi kebutuhan satu sama lainnya. Memahami visi menjadi langkah awal yang penting diperbincangkan untuk menjaga konsistensi dalam tingginya fleksibilitas kerja generasi millenial. Mengutip gagasan dari Hermawan Sutanto, Chief Commercial Officer Bizzy.co.id, mengatakan bahwa ketergantungan generasi millenial pada teknologi dan sifat mereka yang ingin selalu berkontribusi dalam komunitas, membuat Millenials selalu ingin menggunakan produk dan jasa yang menggunakan teknologi. Hal itu berarti, setiap anak muda saat ini berpotensi melakukan kolaborasi dan memberikan kontribusi pada perkembangan teknologi itu sendiri melalui penggunaannya yang hampir di setiap waktu.

Indonesia memiliki aset generasi millenial yang belum sepenuhnya memiliki akses pemanfaatan internet secara maksimal dalam berbagai aktitasnya. Adapun pengaksesannya tak mendominasi penggunaan informasi sebagai edukasi, melainkan menjadi objek terpaan isu atau fenomena ke dalam tren sosial atas bingkai media. Generasi millenial Indonesia tersebar di berbagai daerah dengan pengetahuan yang berbeda-beda sesuai lingkungan dan pengalamannya dalam memanfaatkan internet serta informasi, sehingga kolaborasi antar generasi pun diperlukan dalam berbagai kegiatan untuk menemukan kesetaraan pemahaman mengenai pemanfaatan internet beserta teknologi dan ketersediaan informasi. Selanjutnya dengan ketersediaan informasi sebagai komoditi tak terbatas dapat dikelola oleh generasi millenial melalaui berbagai bentuk gagasan konseptual dan futuristik untuk menghasilkan karya apresiatif dan inovatif atas sinergitas satu sama lain di berbagai ranah antara pemerintahan, pebisnis, akademisi, dan komunitas.


Daftar Pustaka
·       Blummer, J.G., dan E. Katz, ed. 1974. The Uses of Mass Communication: Current Perspectives on Gratifications Research. Beverly Hill, CA: Sage.
·       Agung Ramadhan. 2016. Skripsi; Perilaku Pengguna Media Online Pada Komunitas Palu Skateboarding Dalam Memenuhi Kebutuhan Informasi. Universitas Tadulako.
·       https://apjii.or.id/

Primagama Palu Benahi Manajemen Internal

19:48

Aslinda, kepala cabang Primagama Palu mengungkapkan bahwa setahun belakangan ini terjadi penurunan minat pendaftaran siswa untuk mengikuti bimbingan belajar, namun pihaknya terus berupaya membenahi manajemen sehingga dapat meningkatkan berbagai hal, seperti pelayanan, promosi dan sebagainya.

“kami memang kurang melakukan promosi dan sosialisasi program ke sekolah-sekolah, Tahun ini, kami sementara melakukan pembenahan manajemen dan lainnya”, ungkap Aslinda di kantor Primagama cabang Palu, jalan Ahmad yani, No. 9 Palu. Jumat (14/07/2017)

Ia lanjutkan, layanan bimbingan belajar yang diberikan Primagama selama ini terbilang lumayan memuaskan, karena turut membantu siswa-siswi dalam meningkatkan nilai pelajaran serta prestasinya di sekolah.

Aslinda, Kepala cabang Primagama Palu
“kami ingin pelajar dapat memahami pelajaran dengan mudah. Mendapatkan nilai bagus di sekolah pun belum tentu bisa menguasai pelajaran secara maksimal, sehingga pelajar harusnya mengasah pelajaran yang ia dapatkan melalui program bimbingan belajar” ujarnya.

Primagama saat ini memiliki program kelas regular dalam setahun pengajaran yang terbagi sesuai jenjang pendidikan, diantaranya kelas 3-5 tingkat Sekolah Dasar (SD), kelas 6 SD, 7-8 tingkat Sekolah Mengenah Pertama (SMP), kelas 9 SMP, kelas 10 tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA), dan kelas 12 SMA.

Masing-masing dari jenjang pendidikan tersebut memiliki biaya bimbingan mulai dari Rp.5-6jutaan, yang dapat diangsur lima kali. Adapun pembagian waktu belajar dalam seminggu tiga kali pertemuan untuk kelas tingkat ujian akhir dan seminggu dua kali pertemuan untuk kelas kecil atau diluar tingkat ujian akhir.

Primagama cabang Palu telah mendampingi ribuan pelajar sejak tahun 2003 lalu, yang hingga saat ini terus eksis sebagai lembaga bimbingan belajar di Kota Palu yang berpengalaman selama belasan tahun dengan ribuan alumni.

"harapannya ke depan semoga primagama dapat menjadi lebih baik lagi, dengan membantu siswa-siswinya dalam memahami pelajaran secara utuh yang bukan hanya berdasarkan pada juara kelas, melainkan dapat menguasai materi dari pelajaran yang diterima", tandas Aslinda.

 
Copyright © beranda agung. Designed by OddThemes